Take time to realize

Ada yang berbeda sejak tanggal dua puluh ini, maaf bukan karena ada status baru atau ada yang diam2 memperhatikan xixixixixi tp sejak tanggal itu penghuni rumah yang bener2 menetap atau dengan kata lain stay at home jadi bertambah satu. Siapakah gerangan?? Aku sudah lama mendengar kabar itu, dan aku pun pernah mendengar curhatan seseorang di kala aku msh duduk di bangku kuliah, betapa pilunya ketika dia harus menghadapi seorang tulang punggung keluarga tiba-tiba sudah tak layak bekerja atau dengan kata lain pensiun. Dan aku yakin, tiap orang akan mengalaminya. Dimana masa produktif mungkin masih ada, tapi apa daya umur sudah menginjak batas atau limit aturan perusahaan.
Seperti biasa tiap pagi aku jejeli otak aku dengan semangat tak lupa senyum kuberikan pada matahari pagi yang selalu mewarnai walaupun kadang2 mendung menghampiri. Aku selalu berharap orang2 akan memberi warna yang berbeda pada dunia sederhanaku, agar aku tau bahwa hidup bukan hanya melulu warna hitam ataupun putih. Aku jalani hari2ku dengan penuh syukur dan keikhlasan, ya tak aku pungkiri ketika datang bad mood, raut muka kadang ditekuk dan sedikit manyun hihihihihihi.
Setumpuk inputan, serta berkas2 bwt bahan laporan tercecer memenuhi meja kerjaku. Ya begitulah klo tiba2 sifat muales beres2 mulai mengundang, tapi gpp lah biar keliatan banyak kerjaan xixixixixi. Tiba2 lagu you are beautiful by James Blunt terdengar di ponselku, itu artinya ada panggilan masuk. Segera kuraih ponselku, di layar tertulisakan sebuah nama “punbapa” (*panggilan sopan kpd seorang bapa). Pembicaraan pun dimulai isinya curhatan seorang bapa kepada anak pangais bungsu (*anak tengah / anak bungsu yang ga jadi).
Seketika itu aku diam, aku tau ini bakal terjadi. Apalagi usia beliau sudah menginjak kepala lima. Ahhhh betapa kagetnya aku, yang harusnya beliau msh bisa mengabdi kurang lebih satu setengah tahun, tp tiba2 kondisi perusahaan tempat beliau bekerja sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Awal2 aku sulit menerima kabar itu, aku membayangkan tidak akan secepat ini. Ya, memang tidak perlu ada yang dipersalahkan. Tiap orang yang bekerja punya batas kapan dia harus berhenti. Mungkin sekarang ini waktunya beliau menikmati hari2nya tanpa urusan pekerjaan, sekarang giliran aku yang akan menjadi tulang punggung mereka, saatnya aku mengabdi pada mereka, membahagiakan mereka, dan membuat bangga mereka.
Pa… doakan anakmu ya 